Minggu, 07 November 2010

Pencegahan DBD


Menurut Noor (2002) pada dasarnya lima tingkat pencegahan penyakit secara umum meliputi:

1. Pencegahan tingkat dasar
Pencegahan tingkat dasar atau primordial prevention adalah usaha untuk mencegah terjadinya risiko atau mempertahankan keadaan risiko rendah dalam masyarakat terhadap masyarakat secara umum. Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan mempertahankan kebiasaan yang sudah ada yang dapat mencegah terjadinya penyakit DBD seperti memelihara perilaku hidup bersih dan sehat dengan membersihkan tempat penampungan air secara rutin.

2. Pencegahan tingkat pertama
Pencegahan tingkat pertama atau primary prevention adalah pencegahan melalui usaha mengatasi berbagai faktor risiko dengan sasaran utamanya orang sehat melalui usaha peningkatan derajat kesehatan secara umum serta usaha pencegahan khusus terhadap penyakit tertentu. Usaha peningkatan derajat kesehatan (health promotion) atau pencegahan umum yakni meningkatkan derajat kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal seperti penyuluhan tentang bahaya penyakit DBD. Adapun usaha pencegahan khusus (specific protection) adalah usaha yang ditujukan pada pejamu atau penyebab untuk meningkatkan daya tahan maupun untuk mengurangi risiko terhadap penyakit DBD seperti perbaikan kondisi lingkungan atau meningkatkan daya tahan tubuh.

3. Pencegahan tingkat kedua
Sasaran utama pada meraka yang baru terkena penyakit atau terancam akan menderita penyakit DBD melalui diagnosis dini serta pemberian pengobatan yang cepat dan tepat untuk mencegah meluasnya penyakit tersebut. Salah satu kegiatan pencegahan tingkat kedua adalah penemuan penderita secara aktif sedini mungkin melalui pemeriksaan berkala untuk populasi tertentu, penyaringan/pencarian penderita secara dini dan surveilans epidemiologi termasuk pemberian chemoprophylaksys.

4. Pencegahan tingkat ketiga
Pencegahan tingkat ketiga atau tertiary prevention merupakan pencegahan dengan sasaran utamanya adalah penderita penyakit DBD dalam usaha mencegah bertambah beratnya penyakit tersebut atau mencegah terjadinya cacat serta program rehabilitasi. Rehabilitasi ini mencakup rehabilitasi fisik/medis, rehabilitasi mental dan rehabilitasi sosial.

Nyamuk A. aegypti dan A. albopictus adalah suatu vektor penyebab terjadinya DBD. Untuk mencegah agar penyakit DBD tidak mewabah maka dilakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) DBD sebab belum didapat vaksin yang dapat mencegah penyakit tersebut. Gerakan PSN-DBD adalah seluruh kegiatan masyarakat bersama pemerintah yang dilakukan secara berkesinambungan untuk mencegah dan menanggulangi penyakit DBD.

Pemberantasan nyamuk A. Aegypti didasarkan oleh pemutusan rantai penularan yang dilakukan dengan berbagai cara antara lain :

1. Pemberantasan vektor jangka panjang

Gerakan yang efektif dilakukan yaitu gerakan 3 M, meliputi:
a. Menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, tempayan, vas bunga, tempat minum burung dan lain-lain dilaksanakan sekali seminggu.
b. Menutup rapat semua tempat penampungan air.
c. Mengubur semua barang bekas yang ada di sekitar/di luar rumah yang dapat menampung air hujan.

2. Pemberian bahan kimia

a. Abatisasi yaitu pemberian serbuk abate pada tempat-tempat yang digenangi air termasuk bak mandi, jambangan bunga dan sebagainya dengan tujuan membunuh jentik-jentik nyamuk A. Aegypti dan mencegah terjadinya wabah DBD. Pemberian serbuk abate dilakukan dua sampai tiga bulan sekali, dengan takaran 10 gr abate untuk 100 liter air atau 2,5 gram altosid untuk 100 liter air).

b. Abatisasi selektif adalah menaburkan bubuk abate/altosid kedalam tempat penampungan air yang ditemukan jentik pada waktu Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) yang dilakukan oleh petugas kesehatan setiap sebulan sekali di rumah-srumah dan tempat-tempat umum. Bubuk abate berwarna kecoklatan, terbuat dari pasir yang dilapisi dengan zat kimia yang dapat membunuh jentik nyamuk, sedangkan altosid berbentuk butiran seperti gula pasir berwarna hitam arang. Zat kimia dalam altosid akan menghambat (membunuh kepompong, sehingga tidak menjadi nyamuk).

c. Fogging yaitu penyemprotan insektisida yang dilakukan di wilayah yang ada penderita DBD (endemis) yang bertujuan membasmi nyamuk A. aegypti. Fogging dilakukan dengan mallation atau fenitrothion dan dilakukan sekurang-kurangnya 2 kali dengan jarak antara 10 meter di rumah penderita DBD.

Berbagai usaha dilakukan untuk memutuskan rantai penularan penyakit DBD. Usaha yang dilakukan tersebut berupa tindakan pencegahan agar tidak terinfeksi virus dengue yang dibawa oleh nyamuk A. aegyti seperti menaburkan abate pada tempat penampungan air ataupun gerakan 3M yang biasa dianjurkan oleh pemerintah dan petugas kesehatan atau pemerhati kesehatan lainnya. Berbagai penelitian mengemukakan hasil yang serupa bahwa ada hubungan antara tindakan pencegahan dengan kejadian DBD di masyarakat. Hasil penelitian Eka menunjukkan ada hubungan antara keberadaan jentik A. aegypti pada kontainer, kebiasaan menggantung pakaian, ketersediaan tutup pada kontainer, frekuensi pengurasan kontainer, pengetahuan responden tentang DBD dengan kejadian DBD di Kelurahan Ploso Kecamatan Pacitan Tahun 2009.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Fitria (2006) pada masyarakat di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal yang merupakan daerah endemis DBD pada umumnya mempunyai tempat penampungan air seperti bak mandi, gentong, tempayan, ember dan lain-lain serta menghasilkan sampah seperti ban bekas, kaleng bekas, botol bekas dan lain-lain dan juga mempunyai kebiasaan menggantung pakaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan menutup tempat penampungan air, kebiasaan menguras tempat penampungan air dan kebiasaan membuang sampah dengan kejadian penyakit DBD. Wahjuningsih (2004) jaga mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan menguras tempat penampungan air, kebiasaan menutup tempat penampungan air dan kebiasaan membuang sampah dengan kejadian penyakit DBD.

Kegiatan menaburkan abate pada tempat penampungan air memiliki hubungan yang signifikan dengan keberadaan jentik yang secara tidak langsung berhubungan juga dengan tingkat kejadian DBD. Penelitian Respati (2006) menyatakan bahwa ada hubungan antara abatisasi selektif dengan keberadaan jentik dengan tingkat keeratan hubungan rendah. Hal ini menunjukkan bahwa rumah yang pernah dilakukan abatisasi selektif oleh petugas kesehatan tidak ada jentik, sedangkan rumah yang tidak pernah dilakukan abatisasi selektif oleh petugas kesehatan ada jentiknya sehingga abatisasi selektif mempunyai hubungan signifikan dengan keberadaan jentik sebesar 0,315. Dari hasil tersebut berarti bahwa rumah yang tidak pernah dilakukan abatisasi selektif oleh petugas kesehatan berisiko ada jentiknya sebesar 0,315 kali lebih besar daripada rumah yang pernah dilakukan abatisasi selektif oleh petugas kesehatan. Abatisasi memiliki hubungan bermakna dengan keberadaan jentik A. aegypti. Keberadaan jentik A. aegypti memiliki hubungan bermakna dengan DBD.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar