Minggu, 13 November 2011

Meluruskan Paradigma Obat Paten, Obat Branded, dan Obat Generik


OBAT PATEN
Secara definisi, Obat Paten atau obat inovator adalah obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang tergantung dari jenis obatnya. Menurut UU No. 14 Tahun 2001 masa berlaku paten di Indonesia adalah 20 tahun. Selama 20 tahun itu, perusahaan farmasi tersebut memiliki hak eksklusif di Indonesia untuk memproduksi obat yang dimaksud. Perusahaan lain tidak diperkenankan untuk memproduksi dan memasarkan obat serupa kecuali jika memiliki perjanjian khusus dengan pemilik paten.

Nah, yang perlu menjadi perhatian di sini agar tidak rancu dengan definisi di trit yang pernah ada bahwa, paten yang dimaksud di sini adalah obat baru (NCE= New Chemical Entity) bukan patent formulasi (Branded Named drug). Contoh obat patent, seperti Lipitor (atorvastatin calcium) dan Raltegravir. lipitor ditemukan/disintesis pertama kali oleh Bruce Roth di Pfizer, sehingga Pfizer langsung mematenkan temuan NCE terbaru tersebut. Nah inilah yang dinamakan obat paten. FYI, paten lipitor habis di tahun 2011, sehingga dapat dipastikan tahun 2012 akan banyak bermunculan branded namednya atau pun generiknya karena lipitor ni laku keras dipasaran.

Nah, pada trit sebelumnya mencontohkan amoxan kapsul dan Erysanbe Chewable yang sebenarnya adalah branded named drug bukan patent drug (*kembali ke definisi sebagai NCE). Sebagai contoh, erysanbe yang mengandung eritromisin yang diproduksi sanbe, telah ada obat patentnya pada tahun 1952 yang ditemukan oleh Eli Lilly dan dipasarkan dengan nama Ilosone. Oleh karena itu bisa dipastikan bahwa erysanbe bukan patent drug tapi branded named drug.

OBAT BRANDED
Secara definisi, obat yang telah habis masa hak patennya yang diproduksi dan dipasarkan dengan nama dagang. Nah, obat ini akan bermunculan ketika masa obat paten habis, bahkan sebelum masa patent obat originatornya habis, perusahaan sudah siap2 dengan penelitian untuk obat branded ini.
Sebagai contoh obat ini adalah sanmol, amoxan, dan banyak lagi sebagaimana yang sering muncul di televisi. Sehingga pada dasarnya obat ini boleh diiklankan.

Biaya produksi obat ini pun tidak semahal obat patent karena tidak perlu lagi mensintesis dari awal, tapi cukup dengan modifikasi formulasi misalnya menjadi kunyah, atau diberi salut, dan juga dilakukan uji BABE (bioavailabilitas dan bioequivalen) sehingga memiliki efek yang sama dengan dengan obat paten. Selain itu, yang jelas obat ini masih lebih mahal dari generik karena adanya biaya tambahan iklan, dan kemasan yang khusus dan menarik. Selain itu, karena terlanjr pola pikir masyarakat yang lebih suka branded named drug, ma produsen semakin leluasa mengambil untung dari harga obat ini.

OBAT GENERIK
Secara definisi, obat generik adalah obat yang diproduksi dan dipasarkan dengan menggunakan nama kimia atau INN (International Nonprietary Name). Obat ini muncul setelah obat patent habis masa patennya.

Nah, obat generik ni khusus dan cukup ketat peraturannya, karena:
1. Kemasan sederhana
2. Tidak boleh iklan

Selain itu, obat generik ini, tidak dilakukan penelitian dari awal, sehingga biaya RND jauh lebih murah, tingga melakukan BABE menjadi OGB (obat generik berlogo, sehingga memiliki efikasi yang sama dengan baik obat patent maupun branded name. Gampangnya khasiatnya sama. OGB ini juga yang merupakan program pemerintah bekerja sama dengan BUMN industri farmasi sejak tahun 1990an.

PARADIGMA MASYARAKAT

Namun, cukup disayangkan, karena tanggapan masyarakat kurang baik, penjualan OGB ini menurun bahkan rugi, sehingga dapat ditemukan kelangkaan2 obat generik. Kebanyakan masyarakat awam memahami bahwa obat generik murah karena kualitasnya murahan. Padahal justru sebaliknya, harga murah karena memang proses produksi yang tidak memakan biaya seperti obat paten dan branded named drug, Namun kualitas sama karena tetap adanya uji BABE. Selain itu, pemerintah melakukan subsidi untuk produksi obat generik ini. Oleh karena itu, masyarakat butuh edukasi.

Selain itu, yang perlu menjadi perhatian juga, bahwa untuk menemukan obat NCE yang mampu di patentkan ini memakan waktu penelitian 10-20 tahun, dan pastinya memakan biaya yang gak sedikit, sehingga wajar klo obat paten biasanya mahal bisa sampe 10x lipat harga generik karena untuk menutupi biaya tersebut. Tapi selama masih berlaku patentnya, tidak akan ada obat generiknya, sehingga pasien mau tidak mau harus mengkonsumsi obat tersebut. Kecuali kalau masa paten udah habis, walaupun obat paten tersebut tetap diproduksi, pasti akan keluar obat saingannya berupa generik atau branded name yang lebih murah karena biaya penelitiannya tidak sebesar obat paten, sehingga pasien memiliki pilihan.

Nah, paradigma bahwa obat generik adalah obat murahan harus diubah. Negara-negara amerika dan eropa telah mengubah paradigma ini, terlihat dari tingginya peresepan generik hingga 67%. Sedangkan di Indonesia kebalikannya justru paten dan branded drug yang bisa mencapai 70%. Tenaga Kesehatan harus bahu membahu mencerdaskan masyarakat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar